Mom War


Pada saat menjadi ibu pertama kalinya, saya merasa haus informasi tentang bagaimana merawat anak dengan baik dan benar. Saya pun mulai mencari tahu dari buku, bertanya kepada keluarga terdekat, termasuk mengikuti banyak grup yang sedang marak-maraknya di Facebook. Selanjutnya boleh dibilang saya mengalami badai informasi.

Begitu banyak pendapat, teori, sharing pengalaman yang saya dapatkan. Namun tidak semuanya sejalan, justru ada yang bertentangan. Sebagai ibu baru, tentu saja saya malah jadi semakin kebingungan. Teori mana yang paling benar, yang harus saya yakini untuk saya praktekkan. Masa merawat anak kok coba-coba.
Pada akhirnya saya memilih mengikuti intuisi. Saya tidak bisa memaksakan teori A karena situasi saya B. Saya tidak bisa mengikuti pengalaman si C karena kondisi yang saya hadapi D. Awalnya saya merasa sedih dan mulai menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak bisa begini, kenapa tidak bisa begitu. Tidak ada orang tua yang sempurna sekalipun keinginannya menjadi orang tua terbaik bagi anaknya sangat besar.
Ketika anak pertama saya tumbuh semakin besar, saya mulai berjarak dengan tetek bengek pengasuhan bayi, saya mulai bisa melihat perbedaan dengan jernih. Dan saat anak kedua lahir, saya tidak terlalu kebingungan lagi. Tentu saja tetap ada yang berbeda dalam saya menangani anak pertama dan kedua saya. Namun setidaknya saya sudah memiliki sedikit wawasan untuk memilih mana yang paling cocok diterapkan kepada anaksaya. Tentunya yang sesuai dengan situasi saya.
Sekarang, kadang-kadang saya merasa geli sekaligus miris dan prihatin saat menyambangi media sosial. Sesekali aaya mendapati seorang ibu yang dirundung di media sosial karena ia memilih teori A untuk anaknya. Bahkan perundungan itu malah didapat dari orang yang tidak dia kenal. Ada juga yang memilih berdebat karena masing-masing merasa teori pengasuhan yang dia anut yang paling benar. Saya memilih menepi dan menjadi pengamat saja.
Mengapa wanita begitu kompetitif, terutama soal mengurus anak? Nalurikah? Untuk apa? Setiap orang memiliki latar belakang, urusan, dan kondisi yang berbeda-beda. Yang manapun teori yang dipilih untuk mengurus anak, saya rasa pasti disesuaikan dengan semua itu. Tidak nyaman rasanya mengadili ibu lain begini dan begitu. Kalau mengikuti 'mom war' ini memang tidak ada habisnya. Padaha sama-sama sebagai ibu, alangkah baiknya bila saling mendukung.
Bagi calon ibu, calon ayah, atau para ayah (kalau para ibu sepertinya sudah khatam soal ini) yang ingin tahu apa saja yang bisa membuat para ibu berdebat panjang atau saling sindir terutama di media sosial, saya coba tuliskan sedikit pengamatan saya.
1. WM - WMaH - FTM
Yang pertama soal status ibu. WM (working mom) adalah ibu yang bekerja di luar rumah dengan jam kerja tertentu. WMaH (working mom at home) adalah ibu yang bekerja dari rumah. Bisa online atau offline. Bisa berjualan barang atau jasa (menjahit, menulis, dll). FTM (full time mom) adalah ibu yang fokus mengurus rumah tangga termasuk anak-anak. Mana yang lebih baik?
Bagi saya ketiganya baik. Semua status tersebut merupakan pilihan dengan konsekuensi. Mungkin seorang perempuan terpaksa menjadi WM karena kebutuhannya menopang keluarga (misalnya single parent)atau karena memang jasanya dibutuhkan oleh banyak orang (misalnya bidan, perawat, guru, dll) atau karena alasan yang bagi dia memang penting. Ukuran penting atau tidak penting ini tentu saja bisa menjadi ukuran yang relatif bagi setiap orang.
Pilihan menjadi FTM juga bukan pilihan yang mudah. Seorang perempuan dengan pendidikan tinggimelepaskan kesempatan untuk menjadi emas di luar rumah, tidak patut diremehkan. Pilihannya menjadi berlian di dalam rumah pasti sudah dipikirkan matang-matang. Apalagi kalau sudah didukung suami (terumata dalam hal finansial). Kalau memang dia merasa nyaman dengan hal tersebut, untuk apa orang lain yang melihatnya merasa gusar? Dianggap hanya menadahkan tangan kepada suami. Bisa jadi rezekinyadiberikan Allah melalui suaminya.
Ada juga yang mengambil jalan tengah menjadi WMaH. Para ibu yang ingin berpengahasilan tanpa waktu kerja yang mengikat. Tentu saja ini juga baik. Namun kadang ada terselip kesombongan, merasa 'ini lhoh aku, bisa berpenghasilan tapi tetap bisa jagain anak'. Semoga yang begitu (saya saya temui), cuma satu dua orang saja.
2. ASI -ASIP- Sufor
Saat anak pertama saya lahir, ASI saya beru keluar di hari ketiga. Awalnya saya beraikeras tidak mau memberikan sufor untuk anak saya. Saya mau dia ASI eksklusif. Tapi saya pun kalah oleh kondisi. Mana tega membiarkan anak menangis pagi sampai malam karena haus dan lapar. Meakipun lambungnya kecil, belum butuh banyak asupan, tetap saja tangisannya ikut membuat saya menangis.
Ada beberapa ibu yang kesulitan memberikan ASI kepada anaknya karena ASInya tidak keluar atau terlalu sedikit padahal segala upaya telah dia lakukan. Jika kemudian ia memberikan sufor (susu formula) kepada anaknya, pantaskah ia dicap sebagai ibu yang tidak baik? Sufor bukan racun lhoh. Memang kondisinya tidak memungkinkan.
Ada ibu bekerja yang terpaksa memberikan sufor untuk anaknya. Kenapa tidak ASIP (ASI Perah) saja? Oh, para ibu. Bisakah kita berbaik sangka? Siapa tahu dia belum tahu tentang ASIP. Kita bisa bertanya dengan ramah, 'Sudah pernah dengar ASIP?' tanpa ujug-ujug menyudutkan 'Kenapa nggak ASIP saja?'. Bisa jadi dia sudah tahu tetapi tidak mampu nyenyiapkan peralatan tempurnya. Bisa jadi ditempat kerjanya belum ramah untuk ibu menyusui melakukan pumping. Kalau kita berniat baik ingin memberikan informasi, kita bisa bertanya tanpa menghakimi.
Saya percaya kok di luar saya masih jauh lebih banyak ibu yang bijak, peduli, dan punya cara penyampaian yang santun. Yang pernah saya temui di atas, pasti cuma sebagian kecil saja.
Itu baru dua hal saja. Masih banyak hal lain yang kadang masih menjadi perdebatan para ibu. Tentang MPASI (BLW-Puree dan Food Combaining-WHO), Vaksin – Tanpavaksin - Antivaksin, Homeschooling - Schooling, Obat - Herbal,  Kedokteran modern - thibbun nabawi, TPA - nenek kakek - pengasuh, apalagi ya? Kapan-kapan saya bahas lagi deh.
Semoga bermanfaat.


0 komentar:

Posting Komentar